Blogger Widgets

Jumat, 19 April 2013

Penantian yang tak berujung



           Hari ini ada yang tak biasa yang terlukis diwajah Putra sahabatku, tak sedikit pun senyum tersungging dari bibir manisnya. Padahal ini hari kelulusan kami setelah 3 tahun duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP).
“kamu kenapa Put? Kamu ga seneng apa kita lulus?” tanyaku bingung
“aku gak mau ninggalin kamu fan” ujar putra
“maksudnya?” tanyaku kembali
“aku diterima disalah satu SMA fav di Australia, dan itu artinya aku harus meninggalkan Indonesia dan juga kamu. Aku berangkat lusa” Jawabnya dengan wajah semakin sedih
“aku gapapa kok Put, ini kan demi masa depan kamu juga. Aku sahabat kamu, dan aku mau kamu jadi orang sukses. Aku akan setia menunggumu disini put” ujarku memberi Putra semangat.
            Padahal aku juga tak ingin berpisah dengan Putra, aku mencintainya dan aku takut kehilangan dia. Walaupun dia hanya sahabatku, tapi aku berharap suatu saat nanti aku bisa menjadi kekasihnya.
            Hari ini hari dimana putra akan berangkat ke Australia, aku ditemani keluarga Putra mengantarnya ke bandara. Sebelum Putra masuk ke Pesawat, dia sempat berpesan kepadaku.
“Fan, jangan lupain aku yah. Hanya kamu sahabat terbaikku, kamu yang sangat mengerti aku. Aku janji akan kembali untuk kamu dan aku ga akan pernah melupakanmu.” Ujarnya sambil mendekapku
“aku pasti akan merindukanmu Put, jaga diri kamu baik-baik yah. Jangan sampai sakit dan jangan nakal lagi, kita udah bukan anak SMP lagi. Hehe” ujarku memberinya nasihat.
            Pesawat putra pun lepas landas, semakin banyak saja air mata yang menetes membasahi wajahku. Rasanya ingin sekali kususul Putra. Jujur aku tak sanggup berpisah jauh dengannya.

#####

3 tahun telah berlalu setelah kepergian Putra, dan kini adalah waktu dimana Putra akan kembali dan aku sudah tak sabar melihat wajahnya. Aku sangat merindukannya, selama ini aku hanya bisa berkirim email dgnnya.
            Waktu baru menunjukan pukul 06:00 pagi namun aku sudah duduk di ruang tunggu disebuah bandara tempat pesawat Putra akan mendarat. Setelah hamper setengah jam lamanya ku menunggu Putra, akhirnya aku dapat juga berjumpa dengannya.
“Faniaaaaa” teriak Putra saat melihatku
“Putra” ujarku yang langsung memeluknya dan aku pun menangis sejadinya dipelukan Putra
“kamu kenapa nangis? Kamu ga bahagia dengan kepulanganku? “ Tanya Putra
“aku kangen banget sama kamu Put, aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi” jawabku
“aku juga fania, rasanya ingin sekali tak ku lepaskan pelukan ini” ujar Putra sambil mempererat pelukan ini.
            Sebelum pulang, aku mengajak Putra untuk breakfast disebuah rumah makan dengan menu kesukaan Putra dan merupakan tempat kenangan kami sewaktu SMP dulu.
“aku gak nyangka Fan, kamu masih inget tempat ini” ujar Putra menatapku tajam
“aku akan selalu ingat semua tentang kamu Put, termasuk kenangan tentang kamu” jawabku jujur
“kamu beda banget Fan, dulu kamu cuek sama penampilan, tapi sekarang kamu feminim banget. Kamu terlihat cantik memakai dress ini.” Puji putra yg membuatku tersipu malu.
“kamu juga Put, kamu sekarang rapih dan tentunya makin ganteng hehe” Pujiku balik.
            Dikeluarkannya sebuah kertas undangan dari tas kecil yg dibawa Putra dan diberikannya kepadaku. Ku buka kertas tersebut dan kubaca perlahan, dan ternyata itu adalah undangan pertunangan Putra dengan seorang gadis asal Australia yang akan dilangsungkan 3 minggu lagi diIndonesia. Aku coba menahan air mataku agar tidak jatuh dihadapan Putra.
“kamu dateng ya Fan, karena ini hari special buat aku dan kamu orang yang special juga buat aku” ujar Putra.
“kok kamu baru cerita sih kalo kamu punya pacar orang Australi bahkan sudah mau tunangan” tanyaku
“aku mau kasih surprise buat kamu Fan, lagian baru tunangan belum menikah hehe” jawab Putra

            Kami pun pulang, dan sesampainya dirumah aku langsung mengurung diri dikamar dan menangis sambil terus memandangi kertas undangan yg diberikan Putra. Sia-sia penantianku selama ini, kesabaranku dan kesetiaanku menunggu dan mempertahankan cinta ini tak ada hasilnya. Kau kembali dengan dia yang tercinta dan menyisahkan luka mendalam dihatiku. Tak pernahkah kau sadar bahwa aku bukan hanya sekedar sahabat, aku mencintaimu dan menantimu sekian lama. Aku ingin melihatmu bahagia dengannya, namun sanggupkah aku mengorbankan perasaan yang telah tercipta sekian lama ini.
            3 minggu berlalu setelah kepulangan Putra, dan selama itu juga kulepaskan rinduku terhadapnya. Hamper setiap hariku dihiasi oleh kehadirannya. Rasanya semakin menyakitkan jika aku harus melihatnya memasangkan cincin dijari gadis lain. Namun Putra tetap sahabatku dan sebagai sahabat yang baik aku harus tetap mendukung segala keputusannya termasuk menghadiri pertunangannya.


            Nampak jelas dihadapanku Putra bertukar cincin dengan gadis pujaannya Maria yang merupakan gadis berdarah campuran Indonesia-Australia. Senyum kebahagiaan terpancar jelas diwajah Putra, aku turut bahagia jika Putra bahagia. Walaupun itu artinya rasaku ini tak akan pernah terbalaskan dan penantiaanku selama ini tidak ada ujungnya. Cintaku pada Putra tak akan pernah pudar walau ditelan waktu, biarlah kan ku simpan di dalam hati cinta yang tulus ini.



THE END
 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar