Hari ini ada yang tak biasa yang
terlukis diwajah Putra sahabatku, tak sedikit pun senyum tersungging dari bibir
manisnya. Padahal ini hari kelulusan kami setelah 3 tahun duduk dibangku
sekolah menengah pertama (SMP).
“kamu kenapa Put? Kamu ga seneng apa
kita lulus?” tanyaku bingung
“aku gak mau ninggalin kamu fan” ujar
putra
“maksudnya?” tanyaku kembali
“aku diterima disalah satu SMA fav di
Australia, dan itu artinya aku harus meninggalkan Indonesia dan juga kamu. Aku
berangkat lusa” Jawabnya dengan wajah semakin sedih
“aku gapapa kok Put, ini kan demi masa
depan kamu juga. Aku sahabat kamu, dan aku mau kamu jadi orang sukses. Aku akan
setia menunggumu disini put” ujarku memberi Putra semangat.
Padahal
aku juga tak ingin berpisah dengan Putra, aku mencintainya dan aku takut
kehilangan dia. Walaupun dia hanya sahabatku, tapi aku berharap suatu saat
nanti aku bisa menjadi kekasihnya.
Hari
ini hari dimana putra akan berangkat ke Australia, aku ditemani keluarga Putra
mengantarnya ke bandara. Sebelum Putra masuk ke Pesawat, dia sempat berpesan
kepadaku.
“Fan, jangan lupain aku yah. Hanya kamu
sahabat terbaikku, kamu yang sangat mengerti aku. Aku janji akan kembali untuk
kamu dan aku ga akan pernah melupakanmu.” Ujarnya sambil mendekapku
“aku
pasti akan merindukanmu Put, jaga diri kamu baik-baik yah. Jangan sampai sakit dan
jangan nakal lagi, kita udah bukan anak SMP lagi. Hehe” ujarku memberinya
nasihat.
Pesawat putra pun lepas landas,
semakin banyak saja air mata yang menetes membasahi wajahku. Rasanya ingin
sekali kususul Putra. Jujur aku tak sanggup berpisah jauh dengannya.
#####
3 tahun telah berlalu setelah kepergian
Putra, dan kini adalah waktu dimana Putra akan kembali dan aku sudah tak sabar
melihat wajahnya. Aku sangat merindukannya, selama ini aku hanya bisa berkirim
email dgnnya.
Waktu
baru menunjukan pukul 06:00 pagi namun aku sudah duduk di ruang tunggu disebuah
bandara tempat pesawat Putra akan mendarat. Setelah hamper setengah jam lamanya
ku menunggu Putra, akhirnya aku dapat juga berjumpa dengannya.
“Faniaaaaa” teriak Putra saat melihatku
“Putra” ujarku yang langsung memeluknya
dan aku pun menangis sejadinya dipelukan Putra
“kamu kenapa nangis? Kamu ga bahagia
dengan kepulanganku? “ Tanya Putra
“aku kangen banget sama kamu Put, aku
seneng banget bisa ketemu kamu lagi” jawabku
“aku juga fania, rasanya ingin sekali
tak ku lepaskan pelukan ini” ujar Putra sambil mempererat pelukan ini.
Sebelum
pulang, aku mengajak Putra untuk breakfast disebuah rumah makan dengan menu kesukaan
Putra dan merupakan tempat kenangan kami sewaktu SMP dulu.
“aku gak nyangka Fan, kamu masih inget
tempat ini” ujar Putra menatapku tajam
“aku akan selalu ingat semua tentang
kamu Put, termasuk kenangan tentang kamu” jawabku jujur
“kamu beda banget Fan, dulu kamu cuek
sama penampilan, tapi sekarang kamu feminim banget. Kamu terlihat cantik
memakai dress ini.” Puji putra yg membuatku tersipu malu.
“kamu juga Put, kamu sekarang rapih dan
tentunya makin ganteng hehe” Pujiku balik.
Dikeluarkannya
sebuah kertas undangan dari tas kecil yg dibawa Putra dan diberikannya
kepadaku. Ku buka kertas tersebut dan kubaca perlahan, dan ternyata itu adalah undangan
pertunangan Putra dengan seorang gadis asal Australia yang akan dilangsungkan 3
minggu lagi diIndonesia. Aku coba menahan air mataku agar tidak jatuh dihadapan
Putra.
“kamu dateng ya Fan, karena ini hari
special buat aku dan kamu orang yang special juga buat aku” ujar Putra.
“kok kamu baru cerita sih kalo kamu
punya pacar orang Australi bahkan sudah mau tunangan” tanyaku
“aku mau kasih surprise buat kamu Fan,
lagian baru tunangan belum menikah hehe” jawab Putra
Kami
pun pulang, dan sesampainya dirumah aku langsung mengurung diri dikamar dan
menangis sambil terus memandangi kertas undangan yg diberikan Putra. Sia-sia
penantianku selama ini, kesabaranku dan kesetiaanku menunggu dan mempertahankan
cinta ini tak ada hasilnya. Kau kembali dengan dia yang tercinta dan
menyisahkan luka mendalam dihatiku. Tak pernahkah kau sadar bahwa aku bukan
hanya sekedar sahabat, aku mencintaimu dan menantimu sekian lama. Aku ingin
melihatmu bahagia dengannya, namun sanggupkah aku mengorbankan perasaan yang
telah tercipta sekian lama ini.
3
minggu berlalu setelah kepulangan Putra, dan selama itu juga kulepaskan rinduku
terhadapnya. Hamper setiap hariku dihiasi oleh kehadirannya. Rasanya semakin
menyakitkan jika aku harus melihatnya memasangkan cincin dijari gadis lain.
Namun Putra tetap sahabatku dan sebagai sahabat yang baik aku harus tetap
mendukung segala keputusannya termasuk menghadiri pertunangannya.
Nampak
jelas dihadapanku Putra bertukar cincin dengan gadis pujaannya Maria yang
merupakan gadis berdarah campuran Indonesia-Australia. Senyum kebahagiaan
terpancar jelas diwajah Putra, aku turut bahagia jika Putra bahagia. Walaupun
itu artinya rasaku ini tak akan pernah terbalaskan dan penantiaanku selama ini
tidak ada ujungnya. Cintaku pada Putra tak akan pernah pudar walau ditelan
waktu, biarlah kan ku simpan di dalam hati cinta yang tulus ini.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar