Teman Makan Teman
Aku dan Siska adalah sahabat baik sejak kecil, dan kini kami bersekolah di SMA
Harapan kelas XI A. Aku duduk sebangku dengan Siska, teman-teman kami sering
mengatakan bahwa kami ini layaknya sepasang sepatu yg tak pernah terpisahkan.
Hari ini ku ajak siska ke toko buku untuk menemaniku membeli novel, dengan senang hati siska menerima ajakanku. Saat sedang
melihat-lihat novel tiba-tiba siska nampak menghampiri seorang lelaki seusia
kami namun terlihat Tampan dengan jas yang tidak dikancing, dasi
yang kendur dan airphone yg dikalungi dilehernya.
“eh kenalin ini Martin teman gue” ujar siska kepadaku
“hay, gue Sinta”ujarku dengan mengulurkan tangan kepada Martin
“hay juga, gue Martin” balas martin dengan senyuman.
“Lu tau ga Sin, Martin ini tuh baru aja pulang dari Prancis
setelah 4th sekolah disana. Ayahnya Martin itu teman kerjanya Ayah gue” Ujar
Siska mengenalkan Martin padaku.
“wah hebat yah lu bisa sekolah diPrancis, gue dari dulu mau ke
Prancis ga kesampean terus haha” ujarku mencairkan suasana.
“Kalian juga hebat, cantik dan Pandai menulis novel pula.” Ujar
Martin
“yang suka nulis tuh Siska, gue tuh suka fotografi”ujarku
kembali
Kami pun berbincang
cukup lama sembari mencari buku yang ingin kami beli. Setelah asyik berbincang
dan bertukar nomer ponsel dengan martin. Kami pun pulang dan berpisah dengan
martin.
#####
Detap langkah sepatu Mrs.Tamara yang runcing, nyaring terdengar mendekat kearah ruang kelasku. Semua
murid merpihkan posisi duduknya dan mulai mengeluarkan perlengkapan belajarnya.
“Morning class” sapa Mrs.Tamara
“Morning Mam” jawab seluruh siswa kompak
“okey, now I will introduce new student. Boy please come in” ujar
Mrs.Tamara
“thank you Mam, hello guys I am Martin from Paris International
High school” Ujar lelaki yang baru saja masuk dan ternyata dia adalah Martin.
“oh my god, Sin itu Martin. Parah mimpi gue nih” ujar siska
berbisik
“gue juga kaget Sin, ngga salah sekolah kita kedatengan murid
pindahan dari Prancis” jawabku dengan berbisik juga tentunya.
“okey Martin please you sit in front of Siska” ujar Mrs.Tamara
mempersilahkan Martin duduk.
Siska nampak senang karena mendapat teman baru disekolah, jujur
Siska sangat sulit dekat dengan orang lain selain aku. Dia sangat tertutup dan
kuper.
#####
Hari demi hari kami bertiga lalui dengan indah dan penuh canda
tawa, sungguh aku tak pernah melihat siska sebahagia ini. Martin pribadi yang
sangat menyenangkan, dia humoris,ramah,dan nyambung diajak sharing.
“Sin gue mau ngomong sama lu” ujar Siska menghampiriku dengan air
mata membasahi pipinya dan sontak mengejutkanku
“boleh, lu kenapa Sis?” jawabku antusias
“lu jahat Sin, lu tega ngerebut Martin dari gue. Apa ini yang namanya
sahabat? gue kecewa sama lu Sin” ujar Siska yang membuatku kaget bukan
kepalang
“maksud lu apa Sis? gue ngga pernah ngerebut Martin. gue ngga
ngerti Sis” ujarku mulai menangis
“gue sayang sama Martin, harusnya lu tau itu karena lu sahabat
gue. Tapi lu malah ngerebut Martin dari gue, Martin curhat sama gue. Dia bilang
dia suka sama lu dan hari ini dia mau nembak lu. Kalau lu masih nganggep
gue sahabat lu, tolak dia” ujar Siska lalu pergi meninggalkanku begitu
saja.
Aku hanya bisa menangis dan bingung harus berbuat apa, aku hanya
bisa terdiam.
Benar saja, Martin menembakku hari ini. Aku menolaknya seperti
permintaan Siska. Aku tak ingin menyakiti hati sahabatku walaupun Martin
terlalu sempurna untuk ku tolak.
#####
Setelah kejadian itu Martin masih tetap berusaha mengejarku dan menunjukan rasa cintanya kepadaku. hal itu tentunya diketahui oleh siska, dan membuat siska semakin kecewa kepadaku. Akhirnya ku coba jelaskan kepada Martin bahwa siska menyukainya dan cemburu melihat kedekatan Martin dengan Aku.
"Tin, ada yang pengen gue omongin sama lu" ujarku mengawalin pembicaraan.
"Yaudah, silakan" jawab Martin santai.
"Lu tau ngga kenapa gue berusaha ngehindarin lu dan nolak lu waktu itu?" tanyaku pada Martin yang merubah raut wajah Martin menjadi serius.
"ngga, emangnya kenapa?" tanya Martin kembali.
"Siska, dia sayang sama lu tin, dia cemburu ngeliat lu sama gue. gue pernah ada diposisi Siska dulu dan itu rasanya sakit banget tin, saat dimana kita harus ngeliat orang yang kita sayang suka sama sahabat kita sendiri" Ujarku dengan air mata yang perlahan jatuh dari pelupuk mataku.
"tapi gue sayangnya sama lu Sin, bukan Siska" jawab Martin menggenggam erat tanganku.
"gue mohon tin, lu jadian sama siska. lupain gue tin, anggep semua ini ga pernah terjadi. please, kali ini aja kabulin permintaan gue tin. gue pengen ngeliat sahabat gue bahagia" Ujarku memohon.
"hati lu mulia banget sin, oke kalo emang itu kemauan lu. gue bakal turutin" jawab Martin.
"Tin, ada yang pengen gue omongin sama lu" ujarku mengawalin pembicaraan.
"Yaudah, silakan" jawab Martin santai.
"Lu tau ngga kenapa gue berusaha ngehindarin lu dan nolak lu waktu itu?" tanyaku pada Martin yang merubah raut wajah Martin menjadi serius.
"ngga, emangnya kenapa?" tanya Martin kembali.
"Siska, dia sayang sama lu tin, dia cemburu ngeliat lu sama gue. gue pernah ada diposisi Siska dulu dan itu rasanya sakit banget tin, saat dimana kita harus ngeliat orang yang kita sayang suka sama sahabat kita sendiri" Ujarku dengan air mata yang perlahan jatuh dari pelupuk mataku.
"tapi gue sayangnya sama lu Sin, bukan Siska" jawab Martin menggenggam erat tanganku.
"gue mohon tin, lu jadian sama siska. lupain gue tin, anggep semua ini ga pernah terjadi. please, kali ini aja kabulin permintaan gue tin. gue pengen ngeliat sahabat gue bahagia" Ujarku memohon.
"hati lu mulia banget sin, oke kalo emang itu kemauan lu. gue bakal turutin" jawab Martin.
####
Seminggu setelah aku menjelaskan yang sebenarnya terjadi kepada Martin, aku mendengar kabar bahwa Martin dan Siska sudah resmi jadian. Aku sangat senang sekali mendengarnya walaupun hatiku perih tapi aku bahagia melihat sahabatku bahagia. bagiku sahabat adalah segalanya :"
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar