Senin, 22 April 2013

Teman Makan Teman



Teman Makan Teman
Aku dan Siska adalah sahabat baik sejak kecil, dan kini kami bersekolah di SMA Harapan kelas XI A. Aku duduk sebangku dengan Siska, teman-teman kami sering mengatakan bahwa kami ini layaknya sepasang sepatu yg tak pernah terpisahkan. 
Hari ini ku ajak siska ke toko buku untuk menemaniku membeli novel, dengan senang hati siska menerima ajakanku. Saat sedang melihat-lihat novel tiba-tiba siska nampak menghampiri seorang lelaki seusia kami namun terlihat Tampan dengan jas yang tidak dikancing, dasi yang kendur dan airphone yg dikalungi dilehernya. 
“eh kenalin ini Martin teman gue” ujar siska kepadaku
“hay, gue Sinta”ujarku dengan mengulurkan tangan kepada Martin
“hay juga, gue Martin” balas martin dengan senyuman.
“Lu tau ga Sin, Martin ini tuh baru aja pulang dari Prancis setelah 4th sekolah disana. Ayahnya Martin itu teman kerjanya Ayah gue” Ujar Siska mengenalkan Martin padaku.
“wah hebat yah lu bisa sekolah diPrancis, gue dari dulu mau ke Prancis ga kesampean terus haha” ujarku mencairkan suasana.
“Kalian juga hebat, cantik dan Pandai menulis novel pula.” Ujar Martin
“yang suka nulis tuh Siska, gue tuh suka fotografi”ujarku kembali
          Kami pun berbincang cukup lama sembari mencari buku yang ingin kami beli. Setelah asyik berbincang dan bertukar nomer ponsel dengan martin. Kami pun pulang dan berpisah dengan martin.

#####
Detap langkah sepatu Mrs.Tamara yang runcing, nyaring  terdengar mendekat kearah ruang kelasku. Semua murid merpihkan posisi duduknya dan mulai mengeluarkan perlengkapan belajarnya.
“Morning class” sapa Mrs.Tamara
“Morning Mam” jawab seluruh siswa kompak
“okey, now I will introduce new student. Boy please come in” ujar Mrs.Tamara
“thank you Mam, hello guys I am Martin from Paris International High school” Ujar lelaki yang baru saja masuk dan ternyata dia adalah Martin.
“oh my god, Sin itu Martin. Parah mimpi gue nih” ujar siska berbisik
“gue juga kaget Sin, ngga salah sekolah kita kedatengan murid pindahan dari Prancis” jawabku dengan berbisik juga tentunya.
“okey Martin please you sit in front of Siska” ujar Mrs.Tamara mempersilahkan Martin duduk.
Siska nampak senang karena mendapat teman baru disekolah, jujur Siska sangat sulit dekat dengan orang lain selain aku. Dia sangat tertutup dan kuper.


#####
Hari demi hari kami bertiga lalui dengan indah dan penuh canda tawa, sungguh aku tak pernah melihat siska sebahagia ini. Martin pribadi yang sangat menyenangkan, dia humoris,ramah,dan nyambung diajak sharing.
“Sin gue mau ngomong sama lu” ujar Siska menghampiriku dengan air mata membasahi pipinya dan sontak mengejutkanku
“boleh, lu kenapa Sis?” jawabku antusias
“lu jahat Sin, lu tega ngerebut Martin dari gue. Apa ini yang namanya sahabat? gue kecewa sama lu Sin” ujar Siska yang membuatku kaget bukan kepalang
“maksud lu apa Sis? gue ngga pernah ngerebut Martin. gue ngga ngerti Sis” ujarku mulai menangis
“gue sayang sama Martin, harusnya lu tau itu karena lu sahabat gue. Tapi lu malah ngerebut Martin dari gue, Martin curhat sama gue. Dia bilang dia suka sama lu dan hari ini dia mau nembak lu. Kalau lu masih nganggep gue sahabat lu, tolak dia” ujar Siska lalu pergi meninggalkanku begitu saja.
Aku hanya bisa menangis dan bingung harus berbuat apa, aku hanya bisa terdiam.
Benar saja, Martin menembakku hari ini. Aku menolaknya seperti permintaan Siska. Aku tak ingin menyakiti hati sahabatku walaupun Martin terlalu sempurna untuk ku tolak.

#####
Setelah kejadian itu Martin masih tetap berusaha mengejarku dan menunjukan rasa cintanya kepadaku. hal itu tentunya diketahui oleh siska, dan membuat siska semakin kecewa kepadaku. Akhirnya ku coba jelaskan kepada Martin bahwa siska menyukainya dan cemburu melihat kedekatan Martin dengan Aku.
"Tin, ada yang pengen gue omongin sama lu" ujarku mengawalin pembicaraan.
"Yaudah, silakan" jawab Martin santai.
"Lu tau ngga kenapa gue berusaha ngehindarin lu dan nolak lu waktu itu?" tanyaku pada Martin yang merubah raut wajah Martin menjadi serius.
"ngga, emangnya kenapa?" tanya Martin kembali.
"Siska, dia sayang sama lu tin, dia cemburu ngeliat lu sama gue. gue pernah ada diposisi Siska dulu dan itu rasanya sakit banget tin, saat dimana kita harus ngeliat orang yang kita sayang suka sama sahabat kita sendiri" Ujarku dengan air mata yang perlahan jatuh dari pelupuk mataku.
"tapi gue sayangnya sama lu Sin, bukan Siska" jawab Martin menggenggam erat tanganku.
"gue mohon tin, lu jadian sama siska. lupain gue tin, anggep semua ini ga pernah terjadi. please, kali ini aja kabulin permintaan gue tin. gue pengen ngeliat sahabat gue bahagia" Ujarku memohon.
"hati lu mulia banget sin, oke kalo emang itu kemauan lu. gue bakal turutin" jawab Martin.



####
Seminggu setelah aku menjelaskan yang sebenarnya terjadi kepada Martin, aku mendengar kabar bahwa Martin dan Siska sudah resmi jadian. Aku sangat senang sekali mendengarnya walaupun hatiku perih tapi aku bahagia melihat sahabatku bahagia. bagiku sahabat adalah segalanya :"



THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar